Hubungi via WhatsApp
Semua yang besar selalu bermula dari hal kecil, begitu pula dengan Maktabain.
Penerbit ini lahir bukan dari modal besar atau tim yang lengkap, tapi dari satu hal yang sederhana: keinginan untuk memberi ruang bagi setiap orang yang ingin menulis, tapi tak tahu harus memulai dari mana.
Aku pernah berada di posisi itu. Menulis dengan penuh semangat, tapi ragu apakah tulisanku layak dibaca. Ingin menerbitkan buku, tapi bingung harus lewat jalur apa. Dari kegelisahan itu, perlahan tumbuh gagasan: bagaimana kalau ada satu tempat yang bukan hanya menerbitkan buku, tapi juga menemani proses lahirnya karya dari tangan para penulis yang sedang berproses seperti aku dulu?
Begitulah Maktabain dimulai, dari ruang sederhana, secangkir kopi, dan banyak sekali percakapan dengan diri sendiri. Nama “Maktabain” sendiri aku pilih karena maknanya yang dalam: dua maktab, dua ruang. Satu untuk menulis, satu untuk belajar. Sebab aku percaya, setiap penulis bukan hanya menciptakan karya, tapi juga sedang belajar tentang dirinya sendiri.
Maktabain bukan sekadar penerbit, tapi sebuah ruang berkreasi dan bertumbuh bersama. Di sini, setiap ide diperlakukan dengan hormat, setiap naskah disambut dengan semangat, dan setiap penulis dipercaya memiliki suara yang unik. Tak ada kata “terlalu sederhana” atau “belum layak”, karena setiap tulisan punya tempat untuk tumbuh.
Kami percaya, literasi bukan hanya tentang membaca dan menulis, tapi juga tentang keberanian untuk bercerita, tentang perjalanan, luka, harapan, dan proses menjadi manusia. Itulah mengapa setiap buku yang lahir di Maktabain selalu kami pandang bukan sekadar produk, tapi potongan jiwa dari penulisnya.
Hari ini, Maktabain terus melangkah. Masih kecil, tapi terus bertumbuh. Kami tidak menginginkan ini hanya sebatas penerbit terbesar, tapi ingin menjadi yang paling dekat dengan para penulisnya. Kami ingin hadir bukan hanya sebagai penerbit, tapi sebagai teman perjalanan, tempat di mana para penulis merasa diterima, didengar, dan didukung.
Setiap kali melihat satu buku terbit dengan logo Maktabain di sampulnya, aku selalu teringat awal mula segalanya. Bahwa mimpi ini lahir bukan dari apa yang sudah dimiliki, tapi dari keyakinan bahwa setiap tulisan punya arti, dan setiap penulis pantas diberi kesempatan.
Dan di situlah, Maktabain akan selalu berdiri, sebagai ruang bagi mereka yang percaya bahwa menulis adalah cara untuk tetap hidup, meski dunia terus berubah.