Hubungi via WhatsApp
Oleh Misbahu Surur
Literasi merupakan fondasi penting dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Namun, literasi tidak berhenti pada kemampuan membaca dan menulis semata. Ia juga menjadi ruang bagi pelajar untuk berpikir kritis, mengolah pengalaman, serta mengekspresikan gagasan yang lahir dari keseharian mereka. Di daerah, termasuk di Kabupaten Tegal, potensi literasi pelajar dan santri sejatinya sangat besar, meski belum seluruhnya mendapatkan ruang apresiasi dan publikasi yang memadai.
Sebagai pemuda yang tumbuh di lingkungan pesantren, saya kerap menjumpai tulisan-tulisan pelajar dan santri yang lahir dari tugas sekolah, kegiatan belajar, maupun refleksi pribadi. Sayangnya, banyak dari tulisan tersebut berhenti sebagai arsip kelas atau sekadar tugas akademik. Padahal, jika didampingi dengan baik, karya-karya tersebut memiliki nilai edukatif dan kultural yang layak dibaca lebih luas.
Pengalaman lapangan menunjukkan bahwa ketika pelajar diberi ruang dan kepercayaan untuk menulis secara bebas namun terarah, mereka mampu menghasilkan karya yang jujur dan reflektif. Hal ini terlihat dalam kegiatan pendampingan menulis cerpen yang dilakukan di salah satu pondok pesantren di wilayah Babakan, Tegal. Para santri tidak hanya belajar menyusun cerita, tetapi juga berani merekam pengalaman, kegelisahan, dan imajinasi mereka dalam bentuk tulisan.
Hal serupa juga tampak di lingkungan sekolah menengah. Di MAN 1 Tegal, misalnya, kegiatan menulis cerpen yang dijadikan tugas akhir semester mampu mendorong siswa-siswi untuk mengekspresikan ide mereka secara lebih kreatif. Dengan pendampingan guru Bahasa Indonesia dan proses penyuntingan yang berkelanjutan, karya-karya tersebut kemudian dibukukan dalam bentuk antologi cerpen. Proses ini memberi pengalaman nyata kepada siswa bahwa menulis bukan sekadar memenuhi kewajiban akademik, melainkan juga sarana membangun kepercayaan diri dan daya pikir kritis.
Dalam konteks inilah, peran pihak pendamping menjadi penting. Salah satu inisiatif lokal yang terlibat dalam proses pendampingan dan penerbitan karya pelajar tersebut adalah Penerbit Maktabain, sebuah penerbit yang tumbuh di Kabupaten Tegal. Kehadirannya bukan semata sebagai lembaga pencetak buku, melainkan sebagai mitra yang mendampingi proses kreatif pelajar dan santri dari naskah hingga menjadi karya utuh.
Bagi saya, membukukan karya pelajar dan santri bukan sekadar tentang hasil cetak. Lebih dari itu, ia adalah proses pendidikan yang menanamkan keberanian berpikir, kejujuran bercerita, dan kebanggaan atas karya sendiri. Ketika tulisan mereka dibaca dan diapresiasi, literasi tidak lagi menjadi konsep abstrak di ruang kelas, melainkan pengalaman nyata yang membekas dalam perjalanan belajar generasi muda.
Ke depan, upaya menghidupkan literasi lokal di Tegal tentu membutuhkan kolaborasi yang lebih luas. Sekolah, pesantren, guru, komunitas, dan inisiatif kreatif lokal perlu saling menguatkan agar ruang literasi tidak berhenti pada kegiatan seremonial semata. Dari ruang kelas dan pesantren, suara pelajar Tegal layak untuk terus ditulis, dibaca, dan dihargai sebagai bagian dari proses membangun masa depan daerah.