Hubungi via WhatsApp
Setiap sekolah menyimpan banyak cerita. Sebagian tertulis rapi dalam buku pelajaran, sebagian lain hidup di kepala dan hati para siswanya. Namun tidak semua cerita itu mendapat ruang untuk tumbuh, apalagi dibukukan. Dari kegelisahan inilah Penerbit Maktabain memulai langkahnya.
Melalui terbitnya buku antologi cerpen Cerita dari Sudut Sekolah, karya siswa-siswi kelas X MAN 1 Tegal, Penerbit Maktabain ingin menunjukkan bahwa literasi tidak harus dimulai dari penulis besar. Literasi bisa tumbuh dari ruang kelas, dari tugas sederhana, dan dari keberanian siswa untuk menulis apa yang mereka lihat dan rasakan.
Proses lahirnya buku ini tidak berdiri sendiri. Di balik setiap cerita, ada peran Akhmad Bakhtiar Rifai, S.Pd., Guru Bahasa Indonesia MAN 1 Tegal, yang dengan sabar membimbing siswa dalam memahami menulis sebagai proses berpikir, bukan sekadar kewajiban akademik. Pendampingan guru menjadi kunci penting agar siswa merasa aman untuk bereksplorasi dengan kata-kata.
Bagi Penerbit Maktabain, penerbitan buku ini bukan sekadar proyek cetak. Ini adalah bagian dari visi besar: menjadi wadah bagi sekolah untuk mengabadikan karya siswa-siswinya dalam bentuk buku. Kami percaya, ketika karya siswa diterbitkan, kepercayaan diri mereka tumbuh. Ketika kepercayaan diri tumbuh, budaya literasi pun ikut hidup.
Buku antologi ini memuat cerita-cerita sederhana, jujur, dan dekat dengan kehidupan sekolah. Justru dari kesederhanaan itulah nilai pentingnya lahir. Siswa belajar bahwa tulisan mereka layak dibaca, dihargai, dan disimpan sebagai jejak perjalanan intelektual.
Ke depan, Penerbit Maktabain berkomitmen untuk terus membuka ruang kolaborasi dengan sekolah, guru, dan komunitas pendidikan. Kami ingin menghadirkan lebih banyak buku yang lahir dari proses belajar, bukan hanya dari ruang kerja penerbit. Karena kami percaya, literasi akan tumbuh kuat ketika sekolah diberi ruang untuk bercerita.
Bagi kami, setiap buku karya siswa adalah harapan. Harapan bahwa menulis tidak lagi terasa jauh dari bangku sekolah, dan bahwa setiap anak punya kesempatan yang sama untuk meninggalkan jejak melalui tulisan.